Home » Blog » Madu Bersihkan Ginjal
Kategori
Produk Pilihan
Pengiriman
Berlanganan via email ?

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Pembayaran
30000
Rp 27000

Madu Bersihkan Ginjal

Thursday, October 31st 2013. Posted in Artikel Kesehatan

IMG00369-20130720-1241

Dokter mendiagnosis Fauzi Rakhman menderita kelainan ginjal pada usia 18 tahun.

Kisah pilu itu bermula saat Fauzi kelas 3 sekolah menengah atas. Usai pesta pada malam tahun baru, pinggangnya terasa nyeri. Deritanya bertambah saat berkemih karena mengeluarkan  darah dan nanah. Fauzi pun tergolek lemah selama setengah bulan di rumahsakit. “Sakit sekali, dalam semenit bisa 3 kali keluar air seni,” kata kelahiran Barabai, Kalimantan Selatan, itu. Fauzi semakin cemas setelah sang kakak menyebut kondisi itu bakal membuatnya mengalami lemah syahwat.

Fauzi kerap mengonsumsi minuman berenergi mulai usia 13 tahun. Saat itu Fauzi sering terjun membuat kolam dan merawat ikan. Maklum, keluarganya pemasok terbesar bibit ikan tawar seperti lele dan nila di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan. “Di saat tubuh capai, saya minum minuman berenergi,” kata Fauzi yang bisa menghabiskan  3 bungkus pembangkit stamina dalam sehari.

 

Berbahaya

Menurut dr Widodo Judarwanto SpA, dokter spesialis anak di Rumahsakit Bunda, Jakarta, minuman berenergi mengandung zat perangsang, zat pewarna, dan zat pengawet yang membuat kerja ginjal berat. Maklum, dalam tubuh ginjal berperan menyaring sisa metabolisme lantas mengeluarkannya dalam bentuk urine. “Ironisnya konsumen minuman energi kebanyakan anak-anak dan remaja. “Itu berbahaya,” kata Widodo yang menjelaskan minuman energi sama berbahaya seperti rokok, minuman keras, dan narkotika.

Dokter memberi obat medis sekaligus meminta Fauzi menghentikan konsumsi minuman itu. Rasa sakit memang berkurang, tapi setiap kali obat dokter habis, timbul nyeri di pinggang. Urinenya kembali berdarah dan bernanah. Saat itu sang kakak yang tinggal di kaki Pegunungan Meratus—sepanjang Kalimantan Timur ke Kalimantan Selatan—menyarankan Fauzi mengonsumsi madu hutan yang diperoleh dari pengumpul setempat. Sebab proses pengolahan madu sederhana, madu alam itu masih mengandung polen, royal jeli, dan propolis.

Sejak itu Fauzi menelan 1 sendok makan madu 2 kali sehari. Sebulan pascakonsumsi derita Fauzi berkurang. Nyeri di pinggang mulai hilang. “Setelah setahun benar-benar sehat. Kini saya jadi penggemar madu,” ujarnya. Sayang, setahun silam pasokan madu dari pengepul  itu terhenti karena sang kakak berpulang. Sebagai ganti Fauzi “terpaksa” beternak lebah madu hutan.

 

Regenerasi sel

Menurut  Dr H Hafuan Lutfi MBA, dokter di Jakarta, madu hutan yang mengandung polen, royal jeli, dan propolis dapat menyediakan mineral dan vitamin untuk metabolisme ginjal sewaktu organ itu terganggu. Madu juga membantu regenerasi sel untuk memperbaiki jaringan rusak di ginjal. “Banyak kasus kelainan ginjal ringan bisa sembuh dengan konsumsi madu. Bahkan, pada beberapa kasus dapat mengurangi frekuensi cuci darah akibat gagal ginjal,” kata Lutfi.

Menurut Lutfi, keputusan terapi madu buat pasien ginjal mesti melihat indikator kerusakan ginjal yaitu angka creatinine clearance. Angka normal kreatinin 1,4. Kreatinin merupakan produk sisa perombakan keratin fosfat di otot. Kreatinin menjadi  racun dan mengendap di darah saat fungsi ginjal terganggu. Bila angka kreatinin kurang dari 1,4 terapi madu dapat mendongkrak menjadi normal. Namun, bila angka sudah di atas 1,4, “Sebaiknya madu dijadikan pelengkap obat medis,” kata dokter alumnus Universitas Sriwijaya itu. Sayang, karena Fauzi berobat di Puskesmas tidak ada rekam medis angka kreatinin.

Valentina Indrajati, herbalis di Bogor, Jawa Barat,  menuturkan keberhasilan terapi madu dibarengi dengan menyetop  meminum minuman pembangkit stamina itu. “Banyak terapi madu dan herbal lain gagal oleh  karena si pasien masih menjalani kebiasaan konsumsi minuman berenergi,” kata pemilik klinik Parametta itu.

Saat Trubus ke rumah Fauzi pada awal Mei 2013, ia sudah terlihat bugar. Pemuda yang kini berusia 25 tahun itu gesit mengangkat-angkat potongan kayu untuk sarang trigona. Sejak setahun lalu Fauzi memindah sarang dari potongan kayu ke kotak-kotak papan aneka ukuran 70 cm x 16 cm x 19 cm dan 25 cm x 15 cmx 16 cm tergantung ukuran sarang dan trigona. “Saya memiliki 20 kotak sarang lebah,” katanya.

Dari setiap kotak Fauzi memanen 0,5 liter madu, 1 kg propolis, dan 0,25 kg polen setiap 6 bulan. Belakangan ia malah aktif menggalang anak SD hingga SMA supaya gemar mengonsumsi madu. “Jangan sampai mereka juga kecanduan minuman energi sehingga sakit ginjal pada usia muda. Lebih baik konsumsi madu supaya terus sehat,” kata Fauzi. (Ridha YK, kontributor Trubus,  di Kalimantan Selatan)

60000
Rp 45000
60000
Rp 54000
60000
Rp 54000
Rp 50000
Shopping cart:
Jumlah = pcs

Lihat Keranjang
Jumlah Nama Barang Berat (kg) Total
0 0,00 Kg Rp 0,00
keranjang anda kosong